MAKALAH ROLE OF THE ADULT

Pendidikan seorang ibu terhadap anaknya merupakan pendidikan
dasar yang tidak dapat diabaikan sama sekali. Maka dari itu, seorang ibu
hendaklah seorang yang bijaksana dan pandai mendidik anak-anaknya. Sebagian
orang mengatakan kaum ibu adalah pendidik bangsa. Nyatalah betapa berat tugas
seorang ibu sebagai pendidik dan pengatur rumah tangga. Baik buruknya
pendidikan ibu terhadap anaknya akan berpengaruh besar terhadap perkembangan
dan watak anaknya di kemudian hari. Disamping ibu, seorang ayah pun memegang
peranan yang penting pula. Anak memandang ayahnya sebagai orang yang tertinggi
gengsinya. Kegiatan seorang ayah terhadap pekerjaannya sehari-hari sungguh
besar pengaruhnya kepada anak-anaknya, lebih-lebih anak yang telah agak
besar. Tidak ada orang tua yang tidak menyayangi putra-putrinya. Jika
memang demikian pastikan anak mengetahui hal ini dan menyadari bahwa mereka
memang dicintai papa dan mamanya. Caranya adalah dengan menunjukkan perhatian
dalam keseharian. Saat buah hati menghadapi masalah, upayakan membantu
mereka mencari solusinya. Misalnya saat nilainya kurang baik, saat menjadi
korban perundungan, saat berkonflik dengan teman sebaya, dan
sebagainya. Anak-anak yang sehat dan bahagia secara fisik dan mental
berkesempatan lebih besar untuk menjadi anak yang berprestasi dalam
hidupnya. Kehidupan anak-anak sekarang padat acara dan terburu-buru. Waktu
bermain, berkreativitas hilang, ini adalah tanggung jawab orang dewasa untuk
memfasilitasi kebutuhan anak. Orang dewasa biasanya fokus pada keamanan anak saat
anak di luar rumah. Sebaiknya ditambah dengan focus juga terhadap bagaimana
anak menggunakan alat permaianannya, bagaimana dia berinteraksi dengan
lingkungan, siapa yang memimpin permainannya, anak berhasil menemukan apa saat
bermain, anak minat & takut akan apa? Kemudian untuk minat, kita beri
mereka tantangan atau kegiatan yang berhubungan dengan minat anak, dan untuk
ketakutan sebaiknya kita tanyakan kenapa anak dan cari solusinya. Untuk dapat
menemukan minat dan ketakutan anak butuh waktu khusus utk observasi dan
wawancara.
Providing
For Physical Play & Movement
Outdoors”
Permainan fisik adalah permainan yang
banyak menggunakan kegiatan fisik. Melalui permainan fisik anak akan tumbuh
menjadi sehat dan kuat untuk melakukan gerakan dasar. Adapun permainan fisik
yang sering dilakukan anak-anak yaitu seperti permainan petak umpet, lompat
tali, kucing dan tikus, grobak sodor dan masih banyak lagi, Permainan yang
dilakukan di luar ruang dan lapangan bermain juga membuat anak-anak belajar
bersosialisasi karena anak-anak akan saling berinteraksi secara bersamaan
dengan anak-anak lainnya. Melalui interaksi ini, anak-anak akan belajar saling
menghormati dengan cara bergantian bermain atau mengambil peran (permainan
tangga luncur).
HUMAN SERVICE AND
PSYCHOLOGY : PLAY THERAPY”

Bermain
adalah cerminan kemampuan fisik, intelektual, emosional dan sosial dan bermain
merupakan media yang baik untuk belajar karena dengan bermain, anak akan
berkata-kata, belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan melakukan apa yang
dapat dilakukan, dan mengenal waktu, jarak, serta suara. Dari
berbagai jenis terapi bermain yang ada, ular tangga adalah permainan yang cocok
untuk anak-anak dengan usia sekolah dasar yang termasuk jenis permainan (games)
dan juga termasuk cooperative play yang sesuai dengan kriteria subjek yaitu
anak usia sekolah yang dapat dimainkan secara berkelompok dan menggunakan
aturan. Layanan
konseling yang diberikan oleh konselor profesional menjadi kebutuhan
lembaga-lembaga PAUD untuk mendukung anak usia dini mengembangkan potensinya. Salah satu inovasi yang
perlu dilakukan konselor untuk membantu anak usia dini mengentaskan masalahnya
adalah play therapy. Usaha-usaha layanan konseling perlu dilakukan konselor
dengan tujuan agar permasalahan-permasalahan yang dialami anak usia dini segera
terselesaikan. Jika permasalahan anak usia dini tidak segera terselesaikan,
dikhawatirkan akan semakin banyak dan menunpuk yang akan mendorong terjadinya
masalah yang semakin berat atau sering dikenal dengan konsep unfinished
business (Mann, 2010).
"PENGETAHUAN TENTANG BERBAGAI HAL TERKAIT DENGAN BERMAIN PADA KEHIDUPAN ANAK ”
Bermain merupakan salah satu cara seseorang untuk memperoleh kesenangan. Seperti pada anak-anak yang sebagian besar waktunya digunakan untuk bermain. Bermain juga bermanfaat untuk anak-anak dalam menjelajahi dunianya, mengembangkan potensi serta kreativitasnya. Bermain dilakukan secara sukarela dan tidak ada paksaan atau tekanan dari luar. Bermain adalah kegiatan yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.
Bermain memberikan pengaruh bagi perkembangan anak seperti perkembangan fisik, dorongan berkomunikasi, emosional, penyaluran kebutuhan dan keinginan, sumber belajar, kreativitas, wawasan diri, moral dan perkembangan pribadinya. Dalam ajaran Islam, seseorang diperbolehkan untuk bermain tetapi dengan tetap taat kepada-Nya. Kita sebagai manusia dituntut untuk pandai membagi waktu antara bermain untuk mencari suatu hal yang menyenangkan dan taat kepada Allah SWT seperti selalu menjalankan ibadah wajib yakni sholat lima waktu. Karena pada dasarnya sesuatu yang berlebih-lebihan tidak diperkenankan, melainkan harus melakukan suatu hal dengan setara sesuai dengan porsinya masing-masing.
HAK-HAK
BERMAIN PADA ANAK USIA DINI

Anak sebagai persemaian SDM
Indonesia yang berkualitas tidak serta merta muncul atau lahir secara alamiah
begitu saja namun butuh tumbuh, perkembangan dan perlindungan. Jika anak
dibiarkan tumbuh dan berkembang tanpa perlindungan, maka mereka akan menjadi
beban pembangunan karena akan menjadi generasi yang lemah, tidak produktif dan
tidak kreatif. Makanan dan pakaian saja belum cukup untuk menjadikan anak
sebagai media persemaian SDM yang berkualitas, kreatif, berdaya saing tinggi
yang memiliki jiwa nasionalisme dan pekerti luhur. Perlu adanya kesadaran yang
tinggi dan kemauan politik yang kuat untuk menciptakan lingkungan yang peduli
dan responsif terhadap kepentingan dan kebutuhan anak. Anak adalah amanah
sekaligus karunia Tuhan Yang Maha Esa yang dalam diri anak melekat harkat dan
martabat sebagai manusia seutuhnya. Selain itu, anak juga merupakan potensi dan
generasi penerus cita-cita bangsa. Oleh karena itu, anak memiliki peran
strategis dalam memikul kelangsungan eksistensi suatu bangsa dan negara pada
masa datang. Untuk dapat menjalankan peran itu, anak perlu mendapatkan
kesempatan seluas-luasnya sebagai perwujudan hak untuk tumbuh dan berkembang
secara optimal baik fisik, psikis dan sosial. Kegiatan bermain pada akhir
masa anak-anak berbeda dengan kegiatan bermain pada awal anak-anak. Pada masa
awal anak-anak, kegiatan bermainnya cenderung individual sedangkan pada masa
akhir kanak-kanak maka kegiatan bermainnya lebih mengutamakan kegiatan bermain
bersama atau kelompok dan mengutamakan kegiatan bermain yang populer. Kegiatan
bermain masa akhir [anak-anak cenderung
bermain lebih konstruktif, menjelajah, mengumpulkan, olah raga serta permainan
yang mengandung unsur hiburan. Hak anak untuk bermain
perlu dilindungi. Perlindungan anak terhadap hak bermain adalah segala usaha
yang dilakukan untuk menciptakan kondisi agar setiap anak dapat melaksanakan
hak dan kewajibannya demi perkembangan dan pertumbuhan anak secara wajar baik
fisik, mental, dan sosial. Perlindungan hak anak untuk bermain merupakan
perwujudan adanya keadilan dalam suatu masyarakat. Artinya, perlindungan anak
diusahakan dalam berbagai bidang kehidupan bernegara dan bermasyarakat.
Kegiatan perlindungan anak membawa akibat hukum, baik dalam kaitannya dengan
hukum tertulis maupun hukum tidak tertulis.
BATASAN BERMAIN PADA ANAK USIA DINI

Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan tanpa ada unsur keterpaksaan dan tidak menekankan pada hasil dari kegiatan bermaian melainkan suatu kegiatan yang menyenangkan yang dilakukan atas keinginan sendiri dan lebih menekankan pada proses yang di dapatkan dalam bermaian yang akan memberikan manfaat bagi seluruh aspek perkembangan anak. Salah satu hal yang harus diketahui dalam proses bermaian hendaknya mendukung tiga jenis main yaitu main sensorimotor,main peran dan konstrukti serta memperhatikan bahan dan penataan yang digunakan dalam dalam bermain. Dengan demikian anak akan memperoleh kesempatan dalam memilih kegiatan yang disukai, dapat bereksperimen sesuai yang di inginkan dan akan menstimulus perkembanagan anak. Oleh karena itu sangat diperlukan adanya batasan dalam aktivitas bermain yang meliputi : Efek gembira atau kesenangan, Spontan, sukarela, motivasi intrinsic, Fokus pada makna dan bukan hasil akhir, serta adanya aturan yang sifatnya insidentil dan diciptakan sendiri.
TEORI KLASIK DAN TEORI MODERN
BERMAIN
Awalnya
kegiatan bermain belum mendapat perhatian kaitannya dengan perkembangan anak.
Hal tersebut disebabkan oleh terbatasnya pengetahuan dan kurangnya perhatian
para ahli psikologi terhadap perkembangan anak. Plato merupakan orang pertama
yang menyadari bahwa bermain penting bagi anak karena adanya nilai praktis.
Pendapat-pendapat lain muncul setelahnya yaitu Aristoteles berpendapat bahwa
dari kegiatan bermain anak dapat memiliki cita-cita yang akan ditekuni di saat
dewasa nanti.
Pendapat Plato
dan Aristoteles kemudian membawa dampak pada reformasi dalam pendidikan (abad
17). Pada era tersebut, pendidikan disesuaikan dengan minat dan perkembangan
anak. Salah satu tokoh reformasi pendidikan, Frobel menekankan pada arti
penting bermain bagi anak. Pendapat tersebut sejalan dengan pendapat Plato dan
Aristoteles bahwa bermain memiliki nilai praktis yaitu bermain dapat
mengembangkan kemampuan dan keterampilan anak.
Pada abad 19
merupakan awal besar studi tentang perkembangan anak hingga muncul beberapa
tokoh dalam teori klasik mengenai bermain. Namun teori klasik tersebut kemudian
mengalami pergeseran dengan munculnya para ahli teori modern tentang bermain.
Perbedaan kedua jenis teori bermain ini terletak pada bagaimana para ahli
menyimpulkan tujuan dan peran bermain bagi anak (Tedjasaputra, 2001).
”Manfaat Bermain Bagi Perkembangan Anak”
Anak memunculkan emosi positif dan negatif
saat bermain dan mengekspresikan sesuai dengan emosi yang dirasakan. Pemahaman
emosii anak ini mampu mencerdaskan emosi anak. Kecerdasan emosi seringkali
dikatakan sebagai kemampuan seseorang dalam memahami emosi diri, menerima,
emnilai, mengelola, serta mengontrol emosi diri dan juga mampu memahami emosi
orang lain. Selama proses bermain ada beberapa perilaku yang perlu dikenali,
antara lain agresi verbal, agresi fisik, mengooceh dan pasif. Perilaku-perilaku
ini sering menjadi cerminan emosi anak saat bermain. Dari pengalaman inilah
yang akan memberikan manfaat bagi perkembangan emosi ana pada masa yang akan
datang.
Bermain
memberikan manfaat bagi perkembangan kognitif anak. Manfaat tersebut dapat
dilihata dari dua hal yaitu : eksplorasi dan perbendaharaan, konsep ruang,
waktu dan bentuk. Eksplorasi yang dilakukan anak salah satunya melalui bermain.
Ketika anak memgang alat permainan , maka anak melakukan percobaan melalui
alat-alat yang dimilikinya. Ketika perkembangn imajinasi anak meningkat , maka
proses berkreasi dengan alat mainan juga semakin meningkat. Anak akan tidak
berhenti memainkan alat mainannya, mengingat kesenangan anak akan timbul ketika
bermain.
Melalui
bermain anak belajar mengontrol geraknya menjadi terkoordinasi. Selain itu,
dengan bermain anak mungkin akan bergerak bebas, sehingga anak mampu
mengembangkan kemampuan motoriknya. Dalam bermain faktor yang dipengaruhi
adalah perkembangan motorik kasar dan motorik halus. Motorik kasar yaitu
gerakan yang melibatkan banyak banyak otot besar seperti duduk, menendang,
berlari, naik turun tangga dan lain-lain. Sedangkan motorik halus adalah
kemampuan yang berhubngan dengan keterampilan fisik yang melibatkan otot kecildan
koordinasi mata-tangan seperti menggunting, menggaris, menyusun blok, menyusun
puzzle dan lain-lain.
Kegiatan
bermain memberi kesempatan pada anak untuk melakukan berbagai macam pilihan
permainan dengan menggunakan alat. Melaui aktifitas bermain ini berbagai
pekerjaan bisa dilakukan. Dalam pandangan Freud bermain adalah media untuk
melepas emosi, bermain juga memiliki tujuan untuk bersenang-senang sehingga
orang yang memainkannya akan merasa bahagia.
Seiring
bertambahnya usia, perkembangan imajinasi anak juga akan semakin bertambah.
Kemampuan berimajinasi anak sangat penting, oleh karena itu orang tua
diharapkan mampu membimbing anak supaya dapat terus belajar dengan model
bermain. Kemampuan imajinasi anak salah satunya bisa diasah dengan melakukan
permainan-permainan seperti bermain peran, bermain lego, bermain kesenian dan
juga bermain eksperimen.
Permainan tradisional
memiliki banyak manfaat bagi perkembangan sosial anak, terutama
permainan-permainan yang dilakukan secara berkelompok. Permainan tradisional
cenderung sederhana dan dilakukan apa adanya tanpa menghilangkan keseruan
didalam permainan itu sendiri. Banyak juga permainan yang melatih anak dalam
menyusun strategi, melatih kerjasama anatar pemain, melatih ketelitian dan
kecerdikan, melatih bermain suportif dan jujur, melatih menghargai pemain lain,
dan adnya interaksi sosial yang terjadi dengan teman dalam bermai, sehingga
anak akan belajar konsep berbagi, menanti giliran, bahkan mampu menyesuaikan
kondisi disekitarnya. Dan pada dasarnya semua permainan mengandung manfaat
dalam aspek sosial selama permainan itu dilakukan secara berkelompok atau
minimal dua orang atau lebih.Bermain memiliki manfaat yang sangat besar
bagi anak terutama dalam mengembangkan aspek psikologis, imajinasi, sosial,
emosi, kognisi, sensorik, dan bahasa. Selain itu bermain juga dapat
mengembangkan kemampuan motorik dan kerjasama. Perlu diketahui manfaat bermain
bukanlah untuk memperoleh hasil melainkan untuk menikmati proses dalam upaya
pembelajaran anak. Oleh sebab itu bermain penting bagi anak karena bermain
adalah proses pembelajaran yang paling tepat diterapkan untuk anak.
JENIS-JENIS KEGIATAN BERMAIN
Bermain Kreatif merupakan kegiatan yang
dilakukan dalam rangka memberikan kesempatan kepada anak untuk bereksplorasi,
berkreasi, mengekspresikan perasaannya baik dengan alat maupun tanpa alat
sehingga menimbulkan kesenangan pada anak yang memungkinkan anak menciptakan
berbagai kreasi dari imajinasinya sendiri. Tujuan utama bermain adalah
memelihara perkembangan atau pertumbuhan optimal pada anak melalui bermain yang
kreatif, interaktif dan terintegrasi dengan lingkungan bermain anak. Dalam
bermain kreatif anak menggunakan imajinasinya, pikirannya dan pertimbangannya
untuk mencipta sesuatu atau membuat kombinasi-kombinasi baru permainannya atau
mendaur ulang bahan yang tidak terpakai lagi. Atau anak menggambar, melukis
sebagai ungkapan persaannya. Apa yang dicipta anak mungkin kurang jelas orang
dewasa, hanya anak itu sendiri yang mampu menjelaskan.
Kegiatan
bermain aktif adalah kegiatan yang memberikan kesenangan dan kepuasan pada anak
melalui aktifitas yang mereka lakukan sendiri (Hurlock, 1978: 328). Kegiatan
bermain aktif dapat diartikan sebagai kegiatan yang melibatkan banyak aktifitas
tubuh atau gerakan-gerakan tubuh yang menuntut anak untuk aktif dan berperan
serta. Secara umum bermain aktif banyak dilakukan pada masa kanak-kanak awal
(Tedjasaputra, 2001: 53). Dalam bermain aktif, kesenangan timbul dari aktivitas
yang dilakukan, baik dalam bentuk kesenangan
berlari atau mencipta sesuatu seperti: Tactile Play, Functional Play,
Constructive Play, Creative Play, Symbolic /Dramatic Play dan Play Games.
Kegiatan
bermain pasif tidak melibatkan banyak gerakan tubuh anak, tetapi hanya
melibatkan sebagian indera saja terutama pendengaran dan penglihatan. Dalam
bermain pasif atau hiburan kesenangan diperoleh dari kegiatan orang lain. Anak
hanya menikmati teman bermain, memandang orang atau hewan di televisi, menonton
adegan lucu atau membaca buku. Beberapa kegiatan bermain pasif dan aspek yang
dapat dikembangkannya adalah membaca komik, menonton film dan mendengarkan
musik atau radio.
TAHAP PERKEMBANGAN BERMAIN
Bermain (play) adalah aktivitas yang
memberikan rasa senang bagi yang memainkannya. Permainan (game) adalah
aktivitas bermain yang di dalamnya mengandung unsur kompetitif dan di dalamnya
terdapat serangkaian aturan dalam memainkannya. Mainan adalah alat yang
digunakan untuk bermain. Kondisi perkembangan anak berdasarkan usia memberikan
informasi kemampuan anak dalam memaknai alat mainan dan bagaimana memainkannya
atau perilaku bermain anak. Perkembangan bermain akan sejalan dengan
perkembangan psikologis anak baik dari segi perkembangan motorik, kognisi,
sosial, maupun emosi anak.
“BERBAGAI ALAT PERMAINAN : EDUKATIF & ELEKTRONIK”
Bermain adalah kegiatan anak-anak lakukan sepanjang hari karena bagi anak bermain adalah hidup dan hidup adalah permainan. Anak usia dini tidak membedakan antara bermain, belajar dan bekerja. (Yuliani Nurani Sujiono, 2012:144). Bermain bagi anak merupakan sarana untuk menumpahkan kegiatan aktif dalam mencapai kesenangan dari kegiatan yang dilakukannya. Bermain juga berperan dalam membangkitkan saraf motorik dan sensoriknya. (Maimunah Hasan, 2013: 287) .Adapun jenisjenis APE yang digunakan dalam pelaksanaan pengajaran antara lain, balok cruissenaire, Puzzle besar, kotak alfabet, kartu lambang bilangan, kartu pasangan, lotto warna, lotto bentuk. Alat permainan adalah semua alat yang digunakan anak untuk memenuhi naluri bermainnya, sedangkan alat permainan edukatif adalah alat permainan yang sengaja dirancang secara khusus untuk kepentingan pendidikan (Tedjasaputra, 2001).
Bermain bagi anak tidak hanya memberikan kepuasan terhadap anak akan tetapi bermain dapat pula membangun karakter dan membentuk sikap dan kepribadian anak Docket dan Fleer berpendapat bahwa bermain merupakan kebutuhan bagi anak, karena melalui bermain anak akan memperoleh pengetahuan yang dapat mengembangkan kemampuan dirinya. Sejalan dengan teori tersebut Susanto mengemukakan bahwa bermain dapat membentuk sikap mental dan nilai-nilai kepribadian anak diantaranya : 1. Dengan bermain itu anak belajar menyadari keteraturan, peraturandan berlatih menjalankan komitmentyang dibangun dalam permainan tersebut 2. Anak belajar menyelesaikan masalah dalam kesulitan terendah sampai yang tertinggi. 3. Anak berlatih sabar menunggu giliran setelah temannya menyelesaikan permainnanya. 4. Anak berlatih bersaing dan membentuk motivasi dan harapan hari esok aka nada peluang memenangkan permainan. 5. Anak-anak sejak dini belajar menghadapi resiko kekalahan yang dihadapi dari permainan.
Terapi permainan merupakan terapi kejiwaan
namun dalam pelaksanaannya faktor ekspresi-gerak menjadi titik tumpuan bagi analisa
terapeutic dengan medianya adalah bentuk-bentuk permainan yang dapat
menimbulkan kesenangan, kenikmatan dan tidak ada unsur paksaan serta menimbulkan
motivasi dalam diri sendiri yang bersifat spontanitas, sukarela dan mempunyai
pola atau aturan yang tidak mengikat.
Adapun
sasaran untuk terapi bermian ini adalah anak gangguan mental dengan penyerta
gangguan psikis, sosial emosi dan komunikasi, sasaran pada mental, psikologi,
sosial emosional dan komunikasinya; anak berkesulitan belajar dengan gangguan
penyerta psikologis, sosial emosional, gerak kurang koordinasi, tremor,
kelayuhan atau kaku; anak gangguan perilaku atau emosi; anak gangguan bahasa
penyertanya psikis, sosial emosional dan ada kalanya terbelakang mental; anak
gangguan pendengaran penyertanya berbahasa atau bicara, psikis, sosial emosional,
dan terkadang mental; anak gangguan penglihatan penyerta psikis dan sosial
emosional; anak gangguan fisik dan kesehatan penyertanya psikis, sosial
emosional; anak cacat ganda penyerta majemuk seperti sensorik, psikis, sosial
emosional, komunikasi dan kadang penyimpangan perilaku; anak dengan kecerdasan
luar biasa atau berbakat, efeknya psikologis dan sosial emosional.
Sindroma Down, menggunakan mainan boneka
empuk dan lembut, karena kebutuhan untuk mendapatkan pelukan atau kehangatan
sangat tinggi bagi penyandang sindroma down.
b) Cerebral Palsya , bisa menggunakan mainan dengan remote control, yang bisa
dioperasikan dengan satu tangan, seperti mobil-mobilan dengan remote control.
Spektrum Autismea,
menggunakan kartu bergambar, karena anak penyandang autisme lebih mudah belajar
secara visual. Kartu bergambar akan membantu mengembangkan kemampuannya
berkomunikasi.
FAKTOR
YANG BERPERAN DALAM KEGIATAN BERMAIN ANAK
Melalui
kegiatan bermain, anak belajar banyak hal, bermain merupakan bagian yang amat
penting dalam tumbuh kembang anak untuk menjadi manusia seutuhnya Anakanak
menggunakan sebagian besar waktunya untuk bermain, baik dengan dirinya sendiri
maupun dengan temannya. Tugas utama anak usia dini adalah bermain. Dengan
bermain menggunakan permainan yang tepat, anak dapat meningkatkan keterampilan
bahasa dan berkomunikasi, kognitif, keterampilan sosial-emosional, dan juga
keterampilan fisik serta motoric. Dapat disimpulkan bahwa bermain
merupakan keseluruhan aktivitas yang dilakukan oleh individu yang sifatnya
menyenangkan, yang berfungsi untuk membantu individu mencapai perkembangan yang
utuh, baik fisik, intelektual, sosial, moral dan emosional.
Semakin
pandai mereka mempergunakan waktu bermain semakin banyak kesenangan dan
kepuasan yang mereka peroleh. Sehabis bermain itu, mereka tidak memperoleh
apa-apa. Atau seperti pecandu narkotik, dia mendapatkan perasaan yang amat
menyenangkan sewaktu dia tenggelam dalam kemabukan narkotika itu. Hilanglah
segala gangguan pikiran yang tidak menyenangkan, lenyaplah kelelahan dan
kelesuan rohaniah dan jasmaniah pada waktu itu. Tetapi itu hanya sebentar, bila
pengaruh narkotik itu sudah tidak ada lagi, perasaan yang menyenangkan itupun
lenyap dan dia menderita kelelahan lebih berat dari sebelum menggunakan
narkotik. Begitulah keadaan orang-orang yang ingkar terhadap hari kebangkitan
dan hidup sesudah mati. Mereka membatasi diri mereka dalam kesempatan yang
pendek itu. Hidup bagi mereka adalah permainan dan hiburan.
HUMOR PADA ANAK

Humor
didefinisikan secara bervariasi oleh para ahli dan terus berubah sepanjang
waktu. Humor
berasal dari kata umor yaitu You-moors yang berarti cairan-mengalir, humor
merupakan sifat dari sesuatu atau suatu situasi yang kompleks yang menimbulkan
keinginan untuk tertawa Humor juga diartikan
sebagai sebuah cerita pendek yang menceritakan suatu kejadian yang lucu dengan
harapan dapat membuat pembacanya tertawa. Kelucuan sebuah humor dapat
disebabkan oleh beberapa hal, misalnya kelakuan para pelaku, kejadian yang umum
akan tetapi diplesetkan, kritik terhadap keadaan, kebodohan, kesalahpengertian,
benturan antar budaya dan hal-hal lain. Dalam kehidupan
sehari-hari, baik di rumah maupun di sekolah, anak mengalami berbagai macam
tekanan, bisa dari orang tua, keluarga, guru maupun teman-temannya. Padatnya
pelajaran di sekolah, persaingan dengan teman bermain serta upaya memenuhi
harapan orang tua bisa menjadi masalah tersendiri buat anak. Baik tahapan pengembangan humor anak dari
Mc Ghee maupun Freud menjelaskan adanya perkembangan humor pada anak, bisa
mendorong perkembangan bahasa, kognitif, dan sosial emosi anak. Humor
dapat melepas individu dari berbagai tuntutan yang dialami dan dapat
membebaskannya dari perasaan inferioritas. kaidah fiqih terkait
canda dan humor sebagai panduan agar canda dan humor bernilai dan berdampak
positif dan tidak justru berdampak dan bernilai negatif seperti menimbulkan
luka hati atau ketersinggungan orang lain dengan tidak menjadikan
simbol-simbol Islam (tauhid, risalah, wahyu dan dien) sebagai bahan untuk
gurauan.