Jumat, 01 Mei 2026

Dalam Sekejap, Hidup Bisa Berubah: Tentang Kehilangan yang Tak Pernah Kita Siapkan

Kemarin, mungkin mereka masih berangkat seperti biasa.

Duduk tenang di kursi,
menatap jendela yang bergerak perlahan,
memikirkan hal-hal sederhana yang sering kita anggap remeh.

Tidak ada firasat.
Tidak ada tanda.

Hanya perjalanan…
yang disangka akan pulang seperti biasa.

Namun hidup, kadang tidak memberi kita kesempatan untuk bersiap.

Dalam satu detik,
semua bisa berubah.

Kecelakaan itu bukan hanya tentang apa yang terjadi di rel.
Ia juga mengetuk sesuatu yang diam di dalam diri kita,
tentang betapa rapuhnya hidup yang selama ini kita kira baik-baik saja.

Kita hidup seolah punya banyak waktu.
Menunda kata maaf.
Menunda kata sayang.
Menunda hadir sepenuhnya.

Seolah-olah besok pasti menunggu.

Padahal, tidak ada yang benar-benar pasti.

Dan ketika kabar itu sampai pada kita,
hati kita ikut terguncang,
meski kita tidak ada di sana.

Dalam psikologi, itu disebut vicarious trauma
luka yang terasa,
meski kita hanya mendengar ceritanya.

Tiba-tiba kita cemas.
Takut.
Diam-diam memikirkan hal yang sama berulang kali.

Itu bukan lemah.
Itu manusia.

Otak kita memang diciptakan untuk mengingat hal buruk lebih lama,
sebuah naluri bertahan yang disebut negativity bias.

Di tengah semua itu,
kita sering ingin mencari siapa yang harus disalahkan.

Seolah dengan menemukan jawaban,
hati kita bisa sedikit lebih tenang.

Padahal, tidak semua hal bisa dijelaskan dengan sederhana.
Tidak semua peristiwa bisa kita rangkum menjadi “ini salah siapa”.

Kadang, hidup hanya… terjadi.

Dan dalam diam,
kita belajar satu hal yang tidak mudah menerima.

Bukan berarti kita tidak peduli.
Bukan berarti kita berhenti merasa.

Tapi karena terus menyalahkan
tidak akan mengembalikan apa yang sudah pergi.

Yang tersisa hanyalah bagaimana kita melanjutkan hidup
dengan hati yang lebih sadar.

Bahwa waktu itu terbatas.
Bahwa kehadiran itu berharga.
Bahwa tidak semua hal bisa ditunda.

Kalau hari ini kamu masih di sini,
masih diberi kesempatan bernapas,
mungkin itu bukan kebetulan.

Mungkin itu pengingat.
untuk hidup lebih sungguh-sungguh.

Jadi, kalau masih ada waktu…
ucapkan yang belum sempat diucapkan.
peluk yang masih bisa dipeluk.

dan hadir,
sepenuhnya…

sebelum semuanya berubah
menjadi kenangan.

Rabu, 29 April 2026

Kamu pernah gak, ngerasa harus selalu kuat… sampai lupa rasanya ditenangkan?

Menjadi “orang kuat” seringkali bukan pilihan, tapi peran yang tanpa sadar kita jalani. Kita jadi tempat cerita, tempat orang lain bersandar, bahkan tempat orang lain meluapkan emosi. Tapi jarang ada ruang untuk kita sendiri.

Lama-kelamaan, kita terbiasa menahan emosi. Sedih ditahan. Marah dipendam. Kecewa disembunyikan.

Masalahnya, emosi yang ditekan tidak benar-benar hilang-mereka hanya “menunggu waktu” untuk muncul dalam bentuk lain: kelelahan, mudah tersinggung, atau bahkan kehilangan makna hidup.

Konsep ini dikenal sebagai emotional suppression dalam regulasi emosi (Gross, 1998). Strategi ini memang bisa membantu dalam jangka pendek (misalnya untuk tetap terlihat tenang), tetapi dalam jangka panjang dapat:

  • Meningkatkan stres fisiologis
  • Menurunkan kesejahteraan psikologis
  • Memicu emotional exhaustion (kelelahan emosional)

Dalam kerangka Emotional Regulation Theory, menekan emosi bukanlah strategi adaptif dibandingkan cognitive reappraisal (mengubah cara berpikir terhadap situasi).

Kamu tidak harus selalu kuat.
Kadang, membiarkan diri merasa… adalah cara paling jujur untuk sembuh.

Selasa, 01 Juni 2021

Psikologi Bermain

SEJARAH PSIKOLOGI BERMAIN



    Pengertian dan definisi bermain berbeda-beda sesuai dengan pendapat para ahli teori bermain. Bermain memiliki karakteristik unik yaitu memberi kesenangan dan kegembiraan bagi anak yang melakukannya. Bermain pada anak-anak dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik itu internal maupun eksternal.Dalam bermain anak-anak harus dibedakan dengan tingkat usianya. Ada yang merangsang kemampuan sosial emosionalnya, ada juga yang merangsang kemampuan motoriknya. Konsep-konsep bermain bisa menjadi acuan untuk memahami dan mendorong serta mengarahkan anak dalam bermain. Dengan demikian orang tua atau pendidik akan terhindar dari kesalahan atau meminimalkan kesalahan dalam mendidik anaknya.

ALAT-ALAT PERMAINAN


Pengertian alat permainan adalah semua alat yang digunakan anak untuk memenuhi naluri bermainnya, sedangkan alat permainan edukatif adalah alat permainan yang sengaja dirancang secara khusus untuk kepentingan Pendidikan. Alat permainan elektronik adalah permainan yang biasa dimainkan melalui media elektronik, seperti komputer, alat konsol, dan telepon pintar (smartphone). Alat permainan edukatif merupakan media dari sistem yang pada dasarnya adalah proses yang sistematis dan sinergi dengan berbagai komponen seperti bahan kegiatan, prosedur didaktid,pengelompokan anak. Pengaruh permainan bagi anak sangat membantu anak dalm perkembangan masa tumbuhnya. Hal itu dikarenakan permainan anak dapat mengembangkan aspek fisik, aspek Sosial Emosional, dan aspek kognitif.

MAKE BELIVE PLAY


Make Believe Play adalah kegiatan bermain di tahap praoperasional yang terjadi pada anak usia sekitar 2 – 7 tahun dengan ciri-ciri anak mampu melakukan kegiatan bermain pura-pura atau bermain khayal dan anak mulai mengenal simbol dari benda lain secara representatif. Kegiatan bermain pura-pura ini memperlihatkan imajinasi anak untuk menirukan atau memerankan perilaku orang dewasa atau orang lain dalam hal sikap, tutur kata berdasarkan status atau perannya dimasyarakat. Peniruan perilaku ini tidak hanya manusia yang nyata tetapi dapat juga tokoh-tokoh kartun atau ceritera legenda, dongeng , tokoh wayang dan sebagainya. Bermain ini kerap kali juga menggambarkan keinginan, perasaan atau pandangan anak mengenai dunia di sekitarnya. Aspek sosial pun juga akan berkembang dengan baik melalui aktivitas bermain ini antara dalam hal kerja sama, komunikasi, saling percaya, menghormati, bermasyrakat, tenggang rasa, kebersamaan dan sebagainya. Melaui bermain anak mampu memciptakan suatu bentuk kerjasama untuk mencapai tujuan bersama, dalam kerjasama dipastikan ada komunikasi antar anggota regu, dan dalam kerjasama juga ada rasa saling percaya dan saling menghormati antar anggota untuk meraih tujuan bersama yang diinginkan.

                                    PROVIDING MATERIALS OUTDOORS 


    Bermain adalah kegiatan pura-pura yang dilakukan dengan atau tanpa menggunakan alat demi kesenangan sehingga anak dapat memproyeksikan harapan-harapan maupun konflik pribadi. Yang memiliki tujuan yaitu agar anak dapat mengeluarkan semua perasaan negative, seperti pengalaman yang tidak menyenangkan/traumatic dan harapan-harapan yang tidak terwujud melalui bermain dalam realita sehingga timbul perasaan senang dan lega. Proses bermain memliki manfaat dan kelebihan yaitu meningkatkan kreativitas, sportifitas dan kejujuran pada diri anak, menumbuhkan rasa bersaing yang positif pada diri anak, meningkatkan percaya diri, meningkatkan keterampilan dan kemampuan berfikir positif pada diri anak. Bermain sangat penting dilakukan oleh anak dikarenakan dengan bermain anak dapat mengenal sesuatu yang ada disekitanya, memiliki pengalaman yang baru, diharapkan dapat menyelesaikan masalah, dan berinteraksi lebih baik lagi untuk meningkatkan pengetahuan pada diri anak.

MAKALAH ROLE OF THE ADULT


    Pendidikan seorang ibu terhadap anaknya merupakan pendidikan dasar yang tidak dapat diabaikan sama sekali. Maka dari itu, seorang ibu hendaklah seorang yang bijaksana dan pandai mendidik anak-anaknya. Sebagian orang mengatakan kaum ibu adalah pendidik bangsa. Nyatalah betapa berat tugas seorang ibu sebagai pendidik dan pengatur rumah tangga. Baik buruknya pendidikan ibu terhadap anaknya akan berpengaruh besar terhadap perkembangan dan watak anaknya di kemudian hari. Disamping ibu, seorang ayah pun memegang peranan yang penting pula. Anak memandang ayahnya sebagai orang yang tertinggi gengsinya. Kegiatan seorang ayah terhadap pekerjaannya sehari-hari sungguh besar pengaruhnya kepada anak-anaknya, lebih-lebih anak yang telah agak besar. Tidak ada orang tua yang tidak menyayangi putra-putrinya. Jika memang demikian pastikan anak mengetahui hal ini dan menyadari bahwa mereka memang dicintai papa dan mamanya. Caranya adalah dengan menunjukkan perhatian dalam keseharian. Saat buah hati menghadapi masalah, upayakan membantu mereka mencari solusinya. Misalnya saat nilainya kurang baik, saat menjadi korban perundungan, saat berkonflik dengan teman sebaya, dan sebagainya. Anak-anak yang sehat dan bahagia secara fisik dan mental berkesempatan lebih besar untuk menjadi anak yang berprestasi dalam hidupnya. Kehidupan anak-anak sekarang padat acara dan terburu-buru. Waktu bermain, berkreativitas hilang, ini adalah tanggung jawab orang dewasa untuk memfasilitasi kebutuhan anak. Orang dewasa biasanya fokus pada keamanan anak saat anak di luar rumah. Sebaiknya ditambah dengan focus juga terhadap bagaimana anak menggunakan alat permaianannya, bagaimana dia berinteraksi dengan lingkungan, siapa yang memimpin permainannya, anak berhasil menemukan apa saat bermain, anak minat & takut akan apa? Kemudian untuk minat, kita beri mereka tantangan atau kegiatan yang berhubungan dengan minat anak, dan untuk ketakutan sebaiknya kita tanyakan kenapa anak dan cari solusinya. Untuk dapat menemukan minat dan ketakutan anak butuh waktu khusus utk observasi dan wawancara.

Providing For Physical  Play & Movement Outdoors” 



    Permainan fisik adalah permainan yang banyak menggunakan kegiatan fisik. Melalui permainan fisik anak akan tumbuh menjadi sehat dan kuat untuk melakukan gerakan dasar. Adapun permainan fisik yang sering dilakukan anak-anak yaitu seperti permainan petak umpet, lompat tali, kucing dan tikus, grobak sodor dan masih banyak lagi, Permainan yang dilakukan di luar ruang dan lapangan bermain juga membuat anak-anak belajar bersosialisasi karena anak-anak akan saling berinteraksi secara bersamaan dengan anak-anak lainnya. Melalui interaksi ini, anak-anak akan belajar saling menghormati dengan cara bergantian bermain atau mengambil peran (permainan tangga luncur).

HUMAN SERVICE AND PSYCHOLOGY : PLAY THERAPY

Bermain adalah cerminan kemampuan fisik, intelektual, emosional dan sosial dan bermain merupakan media yang baik untuk belajar karena dengan bermain, anak akan berkata-kata, belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan melakukan apa yang dapat dilakukan, dan mengenal waktu, jarak, serta suara. Dari berbagai jenis terapi bermain yang ada, ular tangga adalah permainan yang cocok untuk anak-anak dengan usia sekolah dasar yang termasuk jenis permainan (games) dan juga termasuk cooperative play yang sesuai dengan kriteria subjek yaitu anak usia sekolah yang dapat dimainkan secara berkelompok dan menggunakan aturan. Layanan konseling yang diberikan oleh konselor profesional menjadi kebutuhan lembaga-lembaga PAUD untuk mendukung anak usia dini mengembangkan potensinya. Salah satu inovasi yang perlu dilakukan konselor untuk membantu anak usia dini mengentaskan masalahnya adalah play therapy. Usaha-usaha layanan konseling perlu dilakukan konselor dengan tujuan agar permasalahan-permasalahan yang dialami anak usia dini segera terselesaikan. Jika permasalahan anak usia dini tidak segera terselesaikan, dikhawatirkan akan semakin banyak dan menunpuk yang akan mendorong terjadinya masalah yang semakin berat atau sering dikenal dengan konsep unfinished business (Mann, 2010).

"PENGETAHUAN TENTANG BERBAGAI HAL TERKAIT DENGAN BERMAIN PADA KEHIDUPAN ANAK ”



Bermain merupakan salah satu cara seseorang untuk memperoleh kesenangan. Seperti pada anak-anak yang sebagian besar waktunya digunakan untuk bermain. Bermain juga bermanfaat untuk anak-anak dalam menjelajahi dunianya, mengembangkan potensi serta kreativitasnya. Bermain dilakukan secara sukarela dan tidak ada paksaan atau tekanan dari luar. Bermain adalah kegiatan yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.

Bermain memberikan pengaruh bagi perkembangan anak seperti perkembangan fisik, dorongan berkomunikasi, emosional, penyaluran kebutuhan dan keinginan, sumber belajar, kreativitas, wawasan diri, moral dan perkembangan pribadinya. Dalam ajaran Islam, seseorang diperbolehkan untuk bermain tetapi dengan tetap taat kepada-Nya. Kita sebagai manusia dituntut untuk pandai membagi waktu antara bermain untuk mencari suatu hal yang menyenangkan dan taat kepada Allah SWT seperti selalu menjalankan ibadah wajib yakni sholat lima waktu. Karena pada dasarnya sesuatu yang berlebih-lebihan tidak diperkenankan, melainkan harus melakukan suatu hal dengan setara sesuai dengan porsinya masing-masing. 

HAK-HAK BERMAIN PADA ANAK USIA DINI



    Anak sebagai persemaian SDM Indonesia yang berkualitas tidak serta merta muncul atau lahir secara alamiah begitu saja namun butuh tumbuh, perkembangan dan perlindungan. Jika anak dibiarkan tumbuh dan berkembang tanpa perlindungan, maka mereka akan menjadi beban pembangunan karena akan menjadi generasi yang lemah, tidak produktif dan tidak kreatif. Makanan dan pakaian saja belum cukup untuk menjadikan anak sebagai media persemaian SDM yang berkualitas, kreatif, berdaya saing tinggi yang memiliki jiwa nasionalisme dan pekerti luhur. Perlu adanya kesadaran yang tinggi dan kemauan politik yang kuat untuk menciptakan lingkungan yang peduli dan responsif terhadap kepentingan dan kebutuhan anak. Anak adalah amanah sekaligus karunia Tuhan Yang Maha Esa yang dalam diri anak melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya. Selain itu, anak juga merupakan potensi dan generasi penerus cita-cita bangsa. Oleh karena itu, anak memiliki peran strategis dalam memikul kelangsungan eksistensi suatu bangsa dan negara pada masa datang. Untuk dapat menjalankan peran itu, anak perlu mendapatkan kesempatan seluas-luasnya sebagai perwujudan hak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal baik fisik, psikis dan sosial. Kegiatan bermain pada akhir masa anak-anak berbeda dengan kegiatan bermain pada awal anak-anak. Pada masa awal anak-anak, kegiatan bermainnya cenderung individual sedangkan pada masa akhir kanak-kanak maka kegiatan bermainnya lebih mengutamakan kegiatan bermain bersama atau kelompok dan mengutamakan kegiatan bermain yang populer. Kegiatan bermain masa akhir [anak-anak cenderung bermain lebih konstruktif, menjelajah, mengumpulkan, olah raga serta permainan yang mengandung unsur hiburan. Hak anak untuk bermain perlu dilindungi. Perlindungan anak terhadap hak bermain adalah segala usaha yang dilakukan untuk menciptakan kondisi agar setiap anak dapat melaksanakan hak dan kewajibannya demi perkembangan dan pertumbuhan anak secara wajar baik fisik, mental, dan sosial. Perlindungan hak anak untuk bermain merupakan perwujudan adanya keadilan dalam suatu masyarakat. Artinya, perlindungan anak diusahakan dalam berbagai bidang kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Kegiatan perlindungan anak membawa akibat hukum, baik dalam kaitannya dengan hukum tertulis maupun hukum tidak tertulis.

BATASAN BERMAIN PADA ANAK USIA DINI



    Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan tanpa ada unsur keterpaksaan dan tidak menekankan pada hasil dari kegiatan bermaian melainkan suatu kegiatan yang menyenangkan yang dilakukan atas keinginan sendiri dan lebih menekankan pada proses yang di dapatkan dalam bermaian yang akan memberikan manfaat bagi seluruh aspek perkembangan anak. Salah satu hal yang harus diketahui dalam proses bermaian hendaknya mendukung tiga jenis main yaitu main sensorimotor,main peran dan konstrukti serta memperhatikan bahan dan penataan yang digunakan dalam dalam bermain. Dengan demikian anak akan memperoleh kesempatan dalam memilih kegiatan yang disukai, dapat bereksperimen sesuai yang di inginkan dan akan menstimulus perkembanagan anak. Oleh karena itu sangat diperlukan adanya batasan dalam aktivitas bermain yang meliputi : Efek gembira atau kesenangan, Spontan, sukarela, motivasi intrinsic, Fokus pada makna dan bukan hasil akhir, serta adanya aturan yang sifatnya insidentil dan diciptakan sendiri.

TEORI KLASIK DAN TEORI MODERN BERMAIN 



Awalnya kegiatan bermain belum mendapat perhatian kaitannya dengan perkembangan anak. Hal tersebut disebabkan oleh terbatasnya pengetahuan dan kurangnya perhatian para ahli psikologi terhadap perkembangan anak. Plato merupakan orang pertama yang menyadari bahwa bermain penting bagi anak karena adanya nilai praktis. Pendapat-pendapat lain muncul setelahnya yaitu Aristoteles berpendapat bahwa dari kegiatan bermain anak dapat memiliki cita-cita yang akan ditekuni di saat dewasa nanti.

Pendapat Plato dan Aristoteles kemudian membawa dampak pada reformasi dalam pendidikan (abad 17). Pada era tersebut, pendidikan disesuaikan dengan minat dan perkembangan anak. Salah satu tokoh reformasi pendidikan, Frobel menekankan pada arti penting bermain bagi anak. Pendapat tersebut sejalan dengan pendapat Plato dan Aristoteles bahwa bermain memiliki nilai praktis yaitu bermain dapat mengembangkan kemampuan dan keterampilan anak.

Pada abad 19 merupakan awal besar studi tentang perkembangan anak hingga muncul beberapa tokoh dalam teori klasik mengenai bermain. Namun teori klasik tersebut kemudian mengalami pergeseran dengan munculnya para ahli teori modern tentang bermain. Perbedaan kedua jenis teori bermain ini terletak pada bagaimana para ahli menyimpulkan tujuan dan peran bermain bagi anak (Tedjasaputra, 2001). 

”Manfaat Bermain Bagi Perkembangan Anak”




    Anak memunculkan emosi positif dan negatif saat bermain dan mengekspresikan sesuai dengan emosi yang dirasakan. Pemahaman emosii anak ini mampu mencerdaskan emosi anak. Kecerdasan emosi seringkali dikatakan sebagai kemampuan seseorang dalam memahami emosi diri, menerima, emnilai, mengelola, serta mengontrol emosi diri dan juga mampu memahami emosi orang lain. Selama proses bermain ada beberapa perilaku yang perlu dikenali, antara lain agresi verbal, agresi fisik, mengooceh dan pasif. Perilaku-perilaku ini sering menjadi cerminan emosi anak saat bermain. Dari pengalaman inilah yang akan memberikan manfaat bagi perkembangan emosi ana pada masa yang akan datang.

        Bermain memberikan manfaat bagi perkembangan kognitif anak. Manfaat tersebut dapat dilihata dari dua hal yaitu : eksplorasi dan perbendaharaan, konsep ruang, waktu dan bentuk. Eksplorasi yang dilakukan anak salah satunya melalui bermain. Ketika anak memgang alat permainan , maka anak melakukan percobaan melalui alat-alat yang dimilikinya. Ketika perkembangn imajinasi anak meningkat , maka proses berkreasi dengan alat mainan juga semakin meningkat. Anak akan tidak berhenti memainkan alat mainannya, mengingat kesenangan anak akan timbul ketika bermain.

            Melalui bermain anak belajar mengontrol geraknya menjadi terkoordinasi. Selain itu, dengan bermain anak mungkin akan bergerak bebas, sehingga anak mampu mengembangkan kemampuan motoriknya. Dalam bermain faktor yang dipengaruhi adalah perkembangan motorik kasar dan motorik halus. Motorik kasar yaitu gerakan yang melibatkan banyak banyak otot besar seperti duduk, menendang, berlari, naik turun tangga dan lain-lain. Sedangkan motorik halus adalah kemampuan yang berhubngan dengan keterampilan fisik yang melibatkan otot kecildan koordinasi mata-tangan seperti menggunting, menggaris, menyusun blok, menyusun puzzle dan lain-lain.

            Kegiatan bermain memberi kesempatan pada anak untuk melakukan berbagai macam pilihan permainan dengan menggunakan alat. Melaui aktifitas bermain ini berbagai pekerjaan bisa dilakukan. Dalam pandangan Freud bermain adalah media untuk melepas emosi, bermain juga memiliki tujuan untuk bersenang-senang sehingga orang yang memainkannya akan merasa bahagia.

            Seiring bertambahnya usia, perkembangan imajinasi anak juga akan semakin bertambah. Kemampuan berimajinasi anak sangat penting, oleh karena itu orang tua diharapkan mampu membimbing anak supaya dapat terus belajar dengan model bermain. Kemampuan imajinasi anak salah satunya bisa diasah dengan melakukan permainan-permainan seperti bermain peran, bermain lego, bermain kesenian dan juga bermain eksperimen.

            Permainan tradisional memiliki banyak manfaat bagi perkembangan sosial anak, terutama permainan-permainan yang dilakukan secara berkelompok. Permainan tradisional cenderung sederhana dan dilakukan apa adanya tanpa menghilangkan keseruan didalam permainan itu sendiri. Banyak juga permainan yang melatih anak dalam menyusun strategi, melatih kerjasama anatar pemain, melatih ketelitian dan kecerdikan, melatih bermain suportif dan jujur, melatih menghargai pemain lain, dan adnya interaksi sosial yang terjadi dengan teman dalam bermai, sehingga anak akan belajar konsep berbagi, menanti giliran, bahkan mampu menyesuaikan kondisi disekitarnya. Dan pada dasarnya semua permainan mengandung manfaat dalam aspek sosial selama permainan itu dilakukan secara berkelompok atau minimal dua orang atau lebih.Bermain memiliki manfaat yang sangat besar bagi anak terutama dalam mengembangkan aspek psikologis, imajinasi, sosial, emosi, kognisi, sensorik, dan bahasa. Selain itu bermain juga dapat mengembangkan kemampuan motorik dan kerjasama. Perlu diketahui manfaat bermain bukanlah untuk memperoleh hasil melainkan untuk menikmati proses dalam upaya pembelajaran anak. Oleh sebab itu bermain penting bagi anak karena bermain adalah proses pembelajaran yang paling tepat diterapkan untuk anak. 

JENIS-JENIS KEGIATAN BERMAIN



    Bermain Kreatif merupakan kegiatan yang dilakukan dalam rangka memberikan kesempatan kepada anak untuk bereksplorasi, berkreasi, mengekspresikan perasaannya baik dengan alat maupun tanpa alat sehingga menimbulkan kesenangan pada anak yang memungkinkan anak menciptakan berbagai kreasi dari imajinasinya sendiri. Tujuan utama bermain adalah memelihara perkembangan atau pertumbuhan optimal pada anak melalui bermain yang kreatif, interaktif dan terintegrasi dengan lingkungan bermain anak. Dalam bermain kreatif anak menggunakan imajinasinya, pikirannya dan pertimbangannya untuk mencipta sesuatu atau membuat kombinasi-kombinasi baru permainannya atau mendaur ulang bahan yang tidak terpakai lagi. Atau anak menggambar, melukis sebagai ungkapan persaannya. Apa yang dicipta anak mungkin kurang jelas orang dewasa, hanya anak itu sendiri yang mampu menjelaskan. 

    Kegiatan bermain aktif adalah kegiatan yang memberikan kesenangan dan kepuasan pada anak melalui aktifitas yang mereka lakukan sendiri (Hurlock, 1978: 328). Kegiatan bermain aktif dapat diartikan sebagai kegiatan yang melibatkan banyak aktifitas tubuh atau gerakan-gerakan tubuh yang menuntut anak untuk aktif dan berperan serta. Secara umum bermain aktif banyak dilakukan pada masa kanak-kanak awal (Tedjasaputra, 2001: 53). Dalam bermain aktif, kesenangan timbul dari aktivitas yang dilakukan, baik dalam bentuk  kesenangan berlari atau mencipta sesuatu seperti: Tactile Play, Functional Play, Constructive Play, Creative Play, Symbolic /Dramatic Play dan Play Games.

            Kegiatan bermain pasif tidak melibatkan banyak gerakan tubuh anak, tetapi hanya melibatkan sebagian indera saja terutama pendengaran dan penglihatan. Dalam bermain pasif atau hiburan kesenangan diperoleh dari kegiatan orang lain. Anak hanya menikmati teman bermain, memandang orang atau hewan di televisi, menonton adegan lucu atau membaca buku. Beberapa kegiatan bermain pasif dan aspek yang dapat dikembangkannya adalah membaca komik, menonton film dan mendengarkan musik atau radio. 



TAHAP PERKEMBANGAN BERMAIN



    Bermain (play) adalah aktivitas yang memberikan rasa senang bagi yang memainkannya. Permainan (game) adalah aktivitas bermain yang di dalamnya mengandung unsur kompetitif dan di dalamnya terdapat serangkaian aturan dalam memainkannya. Mainan adalah alat yang digunakan untuk bermain. Kondisi perkembangan anak berdasarkan usia memberikan informasi kemampuan anak dalam memaknai alat mainan dan bagaimana memainkannya atau perilaku bermain anak. Perkembangan bermain akan sejalan dengan perkembangan psikologis anak baik dari segi perkembangan motorik, kognisi, sosial, maupun emosi anak.

“BERBAGAI ALAT PERMAINAN : EDUKATIF & ELEKTRONIK”



    Bermain adalah kegiatan anak-anak lakukan sepanjang hari karena bagi anak bermain adalah hidup dan hidup adalah permainan. Anak usia dini tidak membedakan antara bermain, belajar dan bekerja. (Yuliani Nurani Sujiono, 2012:144). Bermain bagi anak merupakan sarana untuk menumpahkan kegiatan aktif dalam mencapai kesenangan dari kegiatan yang dilakukannya. Bermain juga berperan dalam membangkitkan saraf motorik dan sensoriknya. (Maimunah Hasan, 2013: 287) .Adapun jenisjenis APE yang digunakan dalam pelaksanaan pengajaran antara lain, balok cruissenaire, Puzzle besar, kotak alfabet, kartu lambang bilangan, kartu pasangan, lotto warna, lotto bentuk. Alat permainan adalah semua alat yang digunakan anak untuk memenuhi naluri bermainnya, sedangkan alat permainan edukatif adalah alat permainan yang sengaja dirancang secara khusus untuk kepentingan pendidikan (Tedjasaputra, 2001).

    Bermain bagi anak tidak hanya memberikan kepuasan terhadap anak akan tetapi bermain dapat pula membangun karakter dan membentuk sikap dan kepribadian anak Docket dan Fleer berpendapat bahwa bermain merupakan kebutuhan bagi anak, karena melalui bermain anak akan memperoleh pengetahuan yang dapat mengembangkan kemampuan dirinya. Sejalan dengan teori tersebut Susanto mengemukakan bahwa bermain dapat membentuk sikap mental dan nilai-nilai kepribadian anak diantaranya : 1. Dengan bermain itu anak belajar menyadari keteraturan, peraturandan berlatih menjalankan komitmentyang dibangun dalam permainan tersebut 2. Anak belajar menyelesaikan masalah dalam kesulitan terendah sampai yang tertinggi. 3. Anak berlatih sabar menunggu giliran setelah temannya menyelesaikan permainnanya. 4. Anak berlatih bersaing dan membentuk motivasi dan harapan hari esok aka nada peluang memenangkan permainan. 5. Anak-anak sejak dini belajar menghadapi resiko kekalahan yang dihadapi dari permainan. 

 

KEGIATAN BERMAIN PADA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS






    Terapi permainan merupakan terapi kejiwaan namun dalam pelaksanaannya faktor ekspresi-gerak menjadi titik tumpuan bagi analisa terapeutic dengan medianya adalah bentuk-bentuk permainan yang dapat menimbulkan kesenangan, kenikmatan dan tidak ada unsur paksaan serta menimbulkan motivasi dalam diri sendiri yang bersifat spontanitas, sukarela dan mempunyai pola atau aturan yang tidak mengikat.

    Adapun sasaran untuk terapi bermian ini adalah anak gangguan mental dengan penyerta gangguan psikis, sosial emosi dan komunikasi, sasaran pada mental, psikologi, sosial emosional dan komunikasinya; anak berkesulitan belajar dengan gangguan penyerta psikologis, sosial emosional, gerak kurang koordinasi, tremor, kelayuhan atau kaku; anak gangguan perilaku atau emosi; anak gangguan bahasa penyertanya psikis, sosial emosional dan ada kalanya terbelakang mental; anak gangguan pendengaran penyertanya berbahasa atau bicara, psikis, sosial emosional, dan terkadang mental; anak gangguan penglihatan penyerta psikis dan sosial emosional; anak gangguan fisik dan kesehatan penyertanya psikis, sosial emosional; anak cacat ganda penyerta majemuk seperti sensorik, psikis, sosial emosional, komunikasi dan kadang penyimpangan perilaku; anak dengan kecerdasan luar biasa atau berbakat, efeknya psikologis dan sosial emosional.

       Sindroma Down, menggunakan mainan boneka empuk dan lembut, karena kebutuhan untuk mendapatkan pelukan atau kehangatan sangat tinggi bagi penyandang sindroma down.

b)      Cerebral Palsya , bisa menggunakan mainan dengan remote control, yang bisa dioperasikan dengan satu tangan, seperti mobil-mobilan dengan remote control.

Spektrum Autismea, menggunakan kartu bergambar, karena anak penyandang autisme lebih mudah belajar secara visual. Kartu bergambar akan membantu mengembangkan kemampuannya berkomunikasi.


FAKTOR YANG BERPERAN DALAM KEGIATAN BERMAIN ANAK



    Melalui kegiatan bermain, anak belajar banyak hal, bermain merupakan bagian yang amat penting dalam tumbuh kembang anak untuk menjadi manusia seutuhnya Anakanak menggunakan sebagian besar waktunya untuk bermain, baik dengan dirinya sendiri maupun dengan temannya. Tugas utama anak usia dini adalah bermain. Dengan bermain menggunakan permainan yang tepat, anak dapat meningkatkan keterampilan bahasa dan berkomunikasi, kognitif, keterampilan sosial-emosional, dan juga keterampilan fisik serta motoric. Dapat disimpulkan bahwa bermain merupakan keseluruhan aktivitas yang dilakukan oleh individu yang sifatnya menyenangkan, yang berfungsi untuk membantu individu mencapai perkembangan yang utuh, baik fisik, intelektual, sosial, moral dan emosional.

    Semakin pandai mereka mempergunakan waktu bermain semakin banyak kesenangan dan kepuasan yang mereka peroleh. Sehabis bermain itu, mereka tidak memperoleh apa-apa. Atau seperti pecandu narkotik, dia mendapatkan perasaan yang amat menyenangkan sewaktu dia tenggelam dalam kemabukan narkotika itu. Hilanglah segala gangguan pikiran yang tidak menyenangkan, lenyaplah kelelahan dan kelesuan rohaniah dan jasmaniah pada waktu itu. Tetapi itu hanya sebentar, bila pengaruh narkotik itu sudah tidak ada lagi, perasaan yang menyenangkan itupun lenyap dan dia menderita kelelahan lebih berat dari sebelum menggunakan narkotik. Begitulah keadaan orang-orang yang ingkar terhadap hari kebangkitan dan hidup sesudah mati. Mereka membatasi diri mereka dalam kesempatan yang pendek itu. Hidup bagi mereka adalah permainan dan hiburan. 

HUMOR PADA ANAK



    Humor didefinisikan secara bervariasi oleh para ahli dan terus berubah sepanjang waktu. Humor berasal dari kata umor yaitu You-moors yang berarti cairan-mengalir, humor merupakan sifat dari sesuatu atau suatu situasi yang kompleks yang menimbulkan keinginan untuk tertawa Humor juga diartikan sebagai sebuah cerita pendek yang menceritakan suatu kejadian yang lucu dengan harapan dapat membuat pembacanya tertawa. Kelucuan sebuah humor dapat disebabkan oleh beberapa hal, misalnya kelakuan para pelaku, kejadian yang umum akan tetapi diplesetkan, kritik terhadap keadaan, kebodohan, kesalahpengertian, benturan antar budaya dan hal-hal lain. Dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah maupun di sekolah, anak mengalami berbagai macam tekanan, bisa dari orang tua, keluarga, guru maupun teman-temannya. Padatnya pelajaran di sekolah, persaingan dengan teman bermain serta upaya memenuhi harapan orang tua bisa menjadi masalah tersendiri buat anak. Baik tahapan pengembangan humor anak dari Mc Ghee maupun Freud menjelaskan adanya perkembangan humor pada anak, bisa mendorong perkembangan bahasa, kognitif, dan sosial emosi anak. Humor dapat melepas individu dari berbagai tuntutan yang dialami dan dapat membebaskannya dari perasaan inferioritas. kaidah fiqih terkait canda dan humor sebagai panduan agar canda dan humor bernilai dan berdampak positif dan tidak justru berdampak dan bernilai negatif seperti menimbulkan luka hati atau ketersinggungan orang lain dengan tidak menjadikan simbol-simbol Islam (tauhid, risalah, wahyu dan dien) sebagai bahan untuk gurauan. 

 

            




 







 



Minggu, 30 Mei 2021

Psikologi Keberbakatan

 



    Pengertian keberbakatan berkemban dari abad abad ke abad, mulai sebelum abad ke18 sampai abad ke-20.Pada bangsa Cina (500 SM), yang dikatakan anak yang memiliki keberbakatan adalah mereka yang memiliki kemampuan luar biasa dalam membaca, kepemimpinan, imajinasi, ingatan, berpikir dan kepekaan perceptual. Berbeda dengan bangsa Sparta, keberbakatan ditujukan kepada mereka yang menguasai seni tempur dan kepemimpinan militer. Kemudian pada bangsa Yunani keberbakatan ditujukan pada orang yang memiliki penguasaan dalam membaca, menulis, berhitung, sejarah, seni dan kebugaran fisik. Sementara itu di kerajaan Ottoman yang ada di Turki, mengartikan keberbakatan ditujukan kepada orang yang paling gagah, paling pandai, dan paling terampil yang diproyeksikan akan berhasil menduduki jabatan tinggi dalam pemerintahan.

      Renzulli menyatakan seseorang disebut berbakat apabila memiliki tiga klaster, yaitu: (a) kemampuan di atas rata-rata (b) komitmen terhadap tugas yang tinggi, serta (c) kreativitas yang tinggi. Masing masing klaster digambarkan oleh Renzulli dengan lingkaran dan pada bagian tertentu saling bertemu. Pertemuan menunjukkan sesuatu oleh Renzulli disebut keberbakatan. 


              







    Istilah tentang anak berbakat, telah dikemukakan oleh Plato lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Plato menggambarkan bahwa pada masa itu ada sekelompok orang yang disebut berbakat, dan mereka ini adalah merupakan Men of gold. Adapun mereka yang termasuk dalam kelompok "manusia emas" ini adalah orang yang mempunyai taraf intelektual superior. Tujuan dari klasifikasi tersebut adalah untuk mencari bibit unggul dan kemudian diberikan suatu pendidikan khusus, sehingga mereka mampu untuk menjadi pemimpin yang diunggulkan. Pada masa lalu berbakat diartikan sebagai orang yang mempunyai tingkat kecerdasan yang tinggi, jadi dilihat dari skor yang diperoleh dari tes inteligensi.
Secara tradisional pengertian tentang keberbakatan adalah mendasarkan inteligensi umum (general intelligence) sebagaimana yang diukur oleh tes inteligensi.

    Gifted and talented children adalah anak yang diidentifikasi oleh orang-orang yang berkualifikasi profesional sebagai anak yang memiliki kemampuan luar biasa. Mereka menghendaki program pendidikan yang sesuai atau layanan melebihi sebagaimana diberikan secara normal oleh program sekolah regular, sehingga dapat merealisasikan kontribusi secara bermakna bagi diri dan masyarakatnya.Gifted atau cerdas istimewa, merupakan istilah yang diberikan untuk menjelaskan kondisi seseorang yang memiliki kemampuan atau potensi melakukan sesuatu jauh di atas rata-rata dari orang seusianya. Dengan batasan IQ di atas 130, dengan kreativitas, motivasi dan ketahanan kerja yang tinggi. Adapun talented atau berbakat istimewa, tidak mengacu pada batasan inteligensi di atas 130. Namun, talented mempunyai salah satu atau beberapa bidang prestasi yang menonjol, yang melebihi rata-rata, yang tidak selalu dalam bidang akademis.

    Guru berperan untuk mengidentifikasi sumber stres dan berbincang-berbincang mengenai kesulitan yang dihadapi oleh siswa gifted. Pada permasalahan hubungan dengan sebaya, guru BK (Bimbingan Konseling) membuat terobosan yang baik berupa menampung keluh kesah para siswa di kelas CI (Cerdas Istimewa) melalui akun media sosial. Selain adanya media sosial, BK memberikan materi-materi yang bertujuan untuk mengkaji permasalahan-permasalahan yang mungkin dihadapi oleh siswa yakni memberikan bimbingan sosial, bimbingan karir, serta bimbingan bagi siswa yang memiliki kesulitan belajar.

 




    keberbakatan secara sederhana adalah sebuah keadaan dimana seseorang memiliki kemampuan diatas rata-rata, kreativitas tinggi, serta memiliki pengikatan diri atau tanggung jawab yang tinggi terhadap tugas. Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam mengembangkan bakat anak, dimana keluarga menjadi titik awal yang mengerti dan paham pola perkembangan sang anak. Dalam pendidikan berdiferensiasi ini memungkinkan siswa mewujudkan dan mengembangkan bakatnya dan mampu mengembangkan pengetahuan serta keterampilan yang dimiliki. kurikulum berdiferensiasi adalah suatu proses memodifikasi atau adaptasi kurikulum sesuai dengan tingkat kemampuan siswa yang berbeda dalam satu kelas. kurikulum berduferensiasi membuat peserta didik lebih bisa memaksimalkan kemampuan yang dimilikinya. untuk meningkatkan kreatifitas dan keberbakatan, guru didalam mengajar bisa melakukan modifikasi terhadap 5 unsur kegiatan belajar, yaitu materi pelajaran, proses, produk, lingkungan, dan evaluasi. sedangkan faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam penyelenggara pembelajaran berdiferendiasi meliputi perpustakaan dan penyediaan alat pengajaran yang terdiri atas laboratorium atau workshop yang memadai, jadwal pelajaran yang fleksibel, pengembangan program independet study, pengembangan program penyuluhan dan bimbingan, dan pengembangan team teaching. 

Masalah yang dihadapi dan Cara Mengatasinya 


 

    Dalam pengertian yang lebih luas, individu yang berprestasi kurang (underachiever) adalah individu yang tak bermotivasi. Mereka secara konsisten tidak menunjukkan usaha, bahkan mereka cenderung bekerja jauh di bawah potensinya. Masalah yang dialami Anak Underachiever (Aprilnayendi, 2015) Menemukan secara berulang-ulang konsep diri yang negative (1) Merasa tidak diterima keluarga (2)Tidak bertanggung jawab terhadap perilakunya (3) Menantang pengaruh yang diberikan oleh oranglain (4) Merasa jadi korban (5) Memiliki sikap negatif terhadap sekolah (6) Memiliki motivasi dan keterampilan akademik yang lemah (7) Kurang dalam penyelesaian intelektual (8) Berpegang teguh pada status kepemimpinan yang rendah (9) Tidak memiliki hobi, minat dan kreativitas yang dapat digunakan dalam mengisi waktu luang (10) Tidak mampu berpikir dan merencanakan masa depan. “Anak dengan motivasi belajar rendah adalah anak yang tidak memiliki dorongan dalam diri dalam melakukan kegiatan belajar dan tidak adanya arahan perbuatan belajar serta proses yang memberi semangat, sehingga anak tersebut tidak dapat mencapai tujuan yang dikehendaki.”Ciri-Ciri Motivasi Belajar Rendah (suhaimin) ;(Jarang mengerjakan tugas, mudah putus asa, kurang ada dorongan dalam diri, kurang semangat belajar, tidak senang memecahkan soal-soal, tidak mempunyai tujuan dalam belajar.)

 




    Kebutuhan pendidikan anak ditinjau dari minat anak pengembangan itu sendiri, yaitu yang berhubungan dengan potensinya yang hebat. Untuk mewujudkan potensi hebat itu, anakanak mempunyai peluang untuk mencapai aktualisasi potensi yang dimilikinya dengan menggunakan fungsi otak, peluang untuk membangun kreativitas dan motivasi internal untuk belajar berprestasi. Dari segi kepentingan masyarakat, anak yang membutuhkan kepedulian, pengakomodasian, perwujudan lingkungan yang kaya dengan pengalaman, dan layanan anakanak untuk berlatih secara nyata. Menurut Baum, 2007 (dalam Yaumi & Ibrahim, 2013) anak dengan twice exceptionality sebagai individu muda yang sama seperti anak-anak berbakat lainnya, memiliki pengetahuan yang luas, intelegensi yang tinggi dan memiliki bakat dalam hal-hal tertentu. Kemudian menurut Olenchack dan Owen, 2007 (dalam Yaumi & Ibrahim, 2013) menjelaskan anak-anak dengan twice exceptionality sebagai anak-anak yang berbakat dan memiliki tingkat kreativitas yang tinggi, namum selalu diikuti oleh kesulitan dalam memberikan perhatian. Anak-anak berbakat dengan keluar biasaan ganda atau sering disebut dengan dual exceptionality/twice exceptionality yang sudah dijelaskan sebelumnya merupakan anak berbakat yang pada saat bersamaan juga diidentifikasi sebagai anak yang memiliki kebutuhan khusus. Mereka memiliki kualitas keistimewaan yang tinggi tetapi diikuti oleh kesulitan-kesulitan dalam belajarnya. Namun menurut Baum dalam Zaitun (2017) anak yang twice esceptionally yang juga memiliki kebutuhan lain seperti tuli dan buta tidak dapat dikategorikan sebagai kesulitan belajar selama kekurangan tersebut tidak tidak menghambat anak untuk mencapai prestasi akademis yang tinggi ataupun menghasilkan karyakarya yang luar biasa.

 



    Kemampuan dasar atau bakat yang luar biasa yang dimiliki seorang anak memerlukan serangkaian perangsangan (stimulasi) yang sistematis, terencana dan terjadwal agar apa yang dimiliki, menjadi actual dan berfungsu sebaik-baiknya, membiarkan seorang anak berkembang sesuai dengan asas kematangan saja akan menyebabkan perkembangan menjadi tidak sempurna dan bakat-bakat uang luar biasa yang sebenarnya mempinyai potensi untuk diperkembangkan menjadi tidk berfungsi.  Lingkungan keluarga yang dibutuhkan adalah lingkungan keluarga yang kondusif, yang mampu memberikan pengalaman, merangsang rasa ingin tahu, sekaligus menyediakan kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan dalam menemukaan jawaban. Dalam hal ini, orang tua perlu mengidentifikasi potensi yang dimiliki anaknya. Wahab (Racmat Wahab, 2005) terdapat enam peranan orang tua terhadap keterbakatan anak yaitu: (1) sebagai pendidik (2) sebagai guru (3) sebagai motivator (4) sebagai supporter (5) sebagai fasilitator (6) sebagai model. MEMBERI TANTANGAN PADA ANAK BERBAKAT: a. Bantu anak untuk mampu berpikir kreatif dalam memecahkan masalah b. Bantu anak untuk menguasai konsep materi yang diajarkan c. Beri kesempatan untuk menunjukkan potensi anak.


 Teori Howard Gardner tentang multiple intelligences memanfaatkan aspek kognitif dan perkembangan psikologi, antropologi, dan sosiologi untuk menjelaskan kecerdasan manusia Teori ini diperkenalkan pada tahun 1983, dalam buku Gardner, Frames of Mind. Yang mendasari pemikirannya adalah berawal dari kegelisahan Howard Gardner. Menurutnya selama ini para pendidik telah melakukan kekeliruan karena menganggap tes kecerdasan atau tes IQ adalah satu-satunya ukuran yang paling dapat dijadikan patokan untuk mengukur kecerdasan seseorang. Menurut Gadner, kecerdasan manusia juga harus dinilai berdasarkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam hidup, kemampuan menemukan persoalan-persoalan baru untuk diselesaikan atau dicari solusinya, dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu dan memberikan penghargaan dalam budaya seseorang.
    Menurut teori kecerdasan majemuk, seperti yang diungkapkan oleh Thomas Armstrong (2005: 19), kecerdasan linguistik atau word smart adalah suatu kemampuan menggunakan kata-kata secara efektif. Dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, menurut Thomas Armstrong, memperlihatkan bahwa kecerdasan linguistik ini mencakup sedikitnya dua pertiga bagian dari interaksi belajar-mengajar yang mencakup kegiatan membaca dan menulis. Dalam dua kegiatan tersebut (membaca dan menulis), terdapat cakupan luas kemampuan linguistik karena termasuk di dalamnya mengeja, kosakata, dan tata bahasa. Selain itu, kecerdasan linguistik juga berkaitan dengan kemampuan berbicara. Dalam hal ini, kecerdasan linguistik nampak pada para orator, pelawak, selebriti radio, atau politisi yang sering menggunakan kata-kata untuk memanipulasi dan mempengaruhi.
    Kecerdasan logika-matematika adalah kemampuan ilmiah untuk memahami suatu konsep dan secara prosedural menghubungkan pola-pola abstrak dalam memecahkan suatu masalah. Secara sederhana disebut Kemampuan berpikir kritis. Oleh karena itu, kecerdasan logika-matematika tidak hanya terbatas pada matematika saja, tetapi juga mencakup kemampuan ilmiah dalam bidang lainnya. Kecerdasan logika-matematika dapat dikembangkan menggunakan semua mata pelajaran di sekolah, tidak terbatas pada mata pelajaran matematika saja. Mencermati hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa aktivitas untuk mengembangkan kecerdasan logika matematika sangatlah luas dan tidak terbatas pada mata pelajaran matematika
    Kecerdasan visual-spasial  adalah kemampuan untuk membayangkan suatu hasil akhir, berpikir sistematis, mengimajinasikan sesuatu, memahami konsep arah, dll. Kecerdasan visual-spasial berkaitan dengan kemampuan menangkap warna, arah, dan ruang secara akurat serta mengubah penangkapannya tersebut ke dalam bentuk lain seperti dekorasi, arsitektur, lukisan, patung. Anak-anak yang memiliki potensi kecerdasan visual-spasial tinggi memperlihatkan kemampuan yang lebih dibandingkan dengan anak-anak yang lain dalam hal, misalnya menciptakan imajinasi bentuk dalam pemikirannya, atau kemampuan untuk menciptakan bentuk-bentuk tiga dimensi seperti dijumpai pada orang dewasa sebagai pemahat patung atau arsitek suatu bangunan.


Dr. Howard Gardner, seorang psikolog dan profesor ilmu saraf dari Universitas Harvard, mengembangkan teori Multiple Intelligences (MULTIPLE INTELLIGENCE) pada tahun 1983. Harold Gardner, telah mengidentifikasi tujuh jenis intelijen. Ini termasuk linguistik, logika / matematika, verbal / spasial, musikal, tubuh / kinestetik, kemampuan interpersonal, dan intrapersonal Konsep terdistribusi kecerdasan dalam teori Gardner tentang Kecerdasan Ganda yang meliputi kecerdasan kinestetik-jasmani, kecerdasan musical dan kecerdasan interpersonal.Kecerdasan dapat didefinisikan sebagai : kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan nyata; kemampuan untuk menghasilkan persoalan-persoalan baru untuk diselesaikan, kemampuan untuk menciptakan sesuatu atau menawarkan jasa yang akan menimbulkan penghargaan dalam budaya seseorang.

Teori MULTIPLE INTELLIGENCE adalah teori fungsi kognitif dan menurut Howard Gardner, Multiple Intellegences memiliki karakteristik yang berbeda sebagai berikut:

  1. Setiap orang memiliki kapasitas kecerdasan
  2. Setiap orang mampu mengembangkan kecerdasan
  3. Kecerdasan bekerja secara kompleks
  4. Kecerdasan itu bertahap

Menurut Gardner, kecerdasan kinestetik adalah kemampuan menggunakan tubuh atau gerak tubuh untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan. Kecerdasan Kinestetik-jasmani memungkinkan individu menggunakan seluruh atau sebagian tubuh untuk berkreasi dalam mengahasilkan sebuah produk atau memecahkan masalah. Kecerdasan Musikal adalah kemampuan mempersiapkan, membedakan dan mengekspresikan bentuk-bentuk musik. Kecerdasan ini melibatkan kepekaan ritme, melodi, dan bunyi musik lainnya dari sesuatu ciptaan musik. Kecerdasan Interpersonal adalah suatu kemampuan individu dalam mengamati dan memahami maksud, motivasi, dan perasaan orang lain. Peka terhadap ekspresi wajah, suara, dan gerakan tubuh orang lain serta mampu berkomunikasi secara efektif. Kecerdasan Interpersonal ini dapat masuk ke dalam diri orang lain, mengerti dunia orang lain, mengerti pandangan, sikap orang lain dan biasanya mampu memimpin dalam sebuah kelompok.



Teori Multiple Intelligences adalah teori kecerdasan yang membedakan kecerdasan menjadi lebih spesifik, dibandingkan dengan sebelumnya yang melihat kecerdasan sebagai kemampuan umum, sehingga sering disebut sebagai “factor g”.  Gardner mengidentifikasikan bukan dua kecerdasan (verbal dan numerikal), akan tetapi sembilan kecerdasan yang berbeda, yaitu: Linguistik, Logika matematika, Spasial, Kinesthetik-jasmani, Musikal, Interpersonal, Intrapersonal dan Naturalis. Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk memahami maksud dan perasaan orang lain sehingga tercipta hubungan yang harmonis dengan orang lain. Kecerdasan interpersonal penting dalam kehidupan manusia karena pada dasarnya manusia tidak bisa menyendiri

Karakteristik orang yang memiliki kecerdasan interpersonal

-          Belajar dengan sangat baik ketika berada dalam situasi yang membangun interaksi antara satu dengan yang lainnya.

-          Semakin banyak berhubungan dengan orang lain, semakin merasa bahagia.

-          Sangat produktif dan berkembang dengan pesat ketika belajar secara kooperatif dan kolaboratif.

-          Ketika menggunakan interaksi jejaring sosial, sangat senang dilakukan dengan chatting atau teleconference.

Kecerdasan naturalis adalah keahlian mengenali dan mengkatagorikan spesies yaitu flora dan fauna di lingkungan sekitar, mengenali keberadaan spesies, memetakan hubungan antar spesies. Kecerdasan ini juga meliputi kepekaan pada fenomena alam lainnya(misalnya:formasi awan dan gunung-gunung), dan bagi mereka yang dibesarkan di lingkungan perkotaan, kemampuan membedakan benda tak hidup, seperti mobil, sepatu karet, dan sampul kaset cd, dan lain-lain.

Menurut Gardner, kecerdasan kinestetik adalah kemampuan menggunakan tubuh atau gerak tubuh untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan. Menurut Gardner, inteligensi ini menyoroti kemampuan untuk menggunakan seluruh badan (atau bagian dari badan) dalam membedakan berbagai cara, baik untuk ekspresi gerak (tarian, akting) maupun aktivitas bertujuan (atletik). Atlet, ahli bedah, penari, koreografer, dan pengrajin semuanya menggunakan kecerdasan tubuh-kinestetik. Kecerdasan Musikal adalah kemampuan mempersiapkan, membedakan dan mengekspresikan bentuk-bentuk musik. Kecerdasan ini melibatkan kepekaan ritme, melodi, dan bunyi musik lainnya dari sesuatu ciptaan musik. Termasuk dalam kecerdasan ini adalah memiliki kemampuan pemahaman musik, baik pemahaman dari atas kebawah atau sebaliknya ataupun kedua-duanya (global ataupun intuitip, ataupun dalam analitik dan teknikal).

Menurut Thomas Armstrong, kecerdasan linguistik atau word smart adalah suatu kemampuan menggunakan kata-kata secara efektif. Dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, menurut Thomas Armstrong, memperlihatkan bahwa kecerdasan linguistik ini mencakup sedikitnya dua pertiga bagian dari interaksi belajar-mengajar yang mencakup kegiatan 184 membaca dan menulis. Selain itu, kecerdasan linguistik juga berkaitan dengan kemampuan berbicara. Dalam hal ini, kecerdasan linguistik nampak pada para orator, pelawak, selebriti radio, atau politisi yang sering menggunakan kata-kata untuk memanipulasi dan mempengaruhi.

Kecerdasan Logika-Matematika menurut Yaumi (2012) adalah kemampuan yang berkenaan dengan rangkaian alasan, mengenal pola-pola dan aturan. Kemampuan ini sering disebut berpikir kritis.

    Kecerdasan visual-spasial adalah kemampuan untuk membayangkan suatu hasil akhir, berpikir sistematis, mengimajinasikan sesuatu, memahami konsep arah, dll. Kecerdasan visual-spasial berkaitan dengan kemampuan menangkap warna, arah, dan ruang secara akurat serta mengubah penangkapannya tersebut ke dalam bentuk lain seperti dekorasi, arsitektur, lukisan, patung.

PENERAPAN METODE YANG DAPAT DIGUNAKAN UNTUK PENELUSURAN ANAK BERBAKAT



    Pengertian identifikasi Merupakan satu proses mengenali anak-anak yang memiliki kemampuan motivasi, konsep diri, dan potensi kreativitas yang berada jauh diatas rata-rata. Proses pengumpulan informasi/data tentang penampilan individu yang relevan untuk pembuatan keputusan. Alat-alat yang digunakan dalam identifikasi berfokus pada beberapa hal, seperti yang dikemukakan oleh Kirk (1986), yaitu kelancaran (kemampuan untuk memberikan jawaban bagi pertanyaan yang diberikan), kelenturan (kemampuan untuk memberikan berbagai macam jawaban atau beralih dari satu macam respons ke respons yang lain), dan kemurnian (kemampuan untuk memberikan respons yang unik dan layak). Namun, hal-hal yang ditemukan oleh guru, orang tua, perlu dicek dengan tes standar dan pengukuran kemampuan objektif lainnya oleh para ahli dalam bidang tersebut.

    Dalam identifikasi, memiliki prinsip dilakukan secara multidimensional dengan cara pengukuran yang beragam, mengukur bakat khusus, identifikasi potensi (yang belum tampil), serta mengukur aspek lain (perkembangan sosial, emosional, minat, motivasi). Salah satu cara yang digunakan untuk mengidentifikasi apakah anak atau siswa merupakan anak yang berbakat dapat dilakukan oleh Psikolog dengan cara Assesment. Untuk melakukan sebuah Assesment terlebih dahulu dilakukan screening, setelah mengetahui hasil dari screening tersebut selanjutnya baru dilakukan assessment baik terkait dengan kemampuan kecerdasan umum, bakat skolastik dan bakat lainnya, maupun tingkat kreativitas dan komitmen akan tugas. Assessmen dilakukan dengan menggunakan tes dan instrumen terstandar, di antaranya digunakan tes inteligensi, tes bakat skolastik, tes bakat, tes kreativitas, dan inventori komitmen akan tugas. Sebagian besar tes tersebut lebih bersifat individual.

    Professional guru, ; Guru profesional adalah guru yang dapat mencerdaskan para siswanya sesuai dengan potensi atau kemampuannya. Guru adalah ujung tombak dalam pembelajaran dan sangat besar peranannya dalam ikut menghantarkan keberhasilan para peserta didik. Guru profesional bukan guru yang hanya mampu menguntungkan dirinya namun siswanya tidak. Untuk itu, seorang guru memiliki kemampuan mengidentifikasi dan mengenali kemampuan peserta didiknya merupakan kewajiban yang sangat penting.

    Menurut Swassing (1985), identifikasi mempunyai dua konsep yaitu konsep penyaringan (screening) dan identifikasi aktual (actual identifikcation). Mengidentifikasi masalah berarti mengidentifikasi suatu kondisi atau hal yang dirasa kurang baik. Masalah pada anak ini diperoleh dari keluhan-keluhan orang tua dan keluarganya, keluhan guru, dan bisa didapat dari pengalamanpengalaman lapangan, Seperti dikatakan oleh Norman D.Sundberg (2002) dalam Tin Suharmini (2005). ”Gathering informastion to be used for treatment (parents teachers,and physician) provide data on the childs functioning”. Identifikasi dapat dilakukan oleh orangorang yang dekat (sering berhubungan/bergaul) dengan anak, seperti orang tuanya, pengasuhnya, gurunya, dan pihak-pihak lain. Dalam rangka pendidikan inklusi, kegiatan identifikasi anak dengan kebutuhan khusus dilakukan untuk lima keperluan, yaitu: penjaringan (screening) pengalihtanganan (referal)  klasifikasi perencanaan pembelajaran pemantauan kemajuan belajar.


FINLANDIA

    Di sekolah Finlandia, anak berbakat berhak untuk mulai bersekolah satu tahun lebih awal dari biasanya jika diperlukan untuk belajar (UU No. 628 §27). Selain itu, siswa dapat menerima pengajaran dalam mata pelajaran selain yang ditentukan dalam kurikulum nasional. Studi ini sebagian bisa bersifat sukarela (UU No. 628 §11). Di dalam sekolah, Finlandia menawarkan berbagai ketentuan yang dapat dimanfaatkan oleh siswa berbakat. Orang tua dapat memutuskan apakah anak mereka akan mulai atau tidak sekolah pada usia enam atau tujuh tahun, melompat-lompat kelas, berbagi kelas dengan nilai yang lebih tinggi, akselerasi berdasarkan kelompok, lokakarya, kerjasama dengan perusahaan atau organisasi nirlaba, ekstra kurikuler kegiatan, mentor individu dan belajar mandiri.

SPANYOL

    Kursus khusus tentang pendidikan berbakat menjadi kewajiban di dasar kurikulum untuk pelatihan guru dan pelatihan psikolog. Selain itu, adanya program pelatihan guru tetap diperlukan, untuk mengkomunikasikan pengajaran didaktik keterampilan sehingga guru mampu memenuhi keragaman di kelas. Kurikulum khusus dan materi sekolah untuk anak-anak berbakat untuk dikembangkan. Jenis ketentuan khusus seperti "berbagi kelas dengan nilai yang lebih tinggi", "berdasarkan kelompok percepatan ". Program dan bekal untuk anak berbakat yang telah dikembangkan selama ini umumnya mengabaikan kelompok minoritas seperti orang cacat dan etnis minoritas. Khusus bekal untuk siswi juga kurang memadai.

    Pada tahun 1990-an, sekelompok perwira tinggi ABRI dalam kerja sama dengan perguruan Taman Siswa, mendirikan SMA Taruna Nusantara. Tujuannya adalah mendidik anak-anak yang berbakat unggul dengan menjaring lulusan SMP dari ranking 1 sampai 10. Sekolah ini memberikan kesempatan kepada anak bangsa yang terebar di seluruh Indonesia. Pada tahun 2000-an, pemerintah mencoba mengembangkan program pendidikan untuk anak berbakat dengan alternative program pendidikan akselerasi, yang ditargetkan untuk semua jenjang pendidikan, yaitu SD, SLTP, dan SMU. Program ini tepatnya dimulai pada tahun ajaran 2001 untuk sejumlah SMU dan SLTPProgram pendidikan siswa keberbakatan dibenua Amerika, Eropa, dan Asia memiliki masalah dan kebutuhan khusus. Mereka membutuhkan perhatian dan pembinaan yang tepat untuk mengembangkan bakat dan kemampuanya secara optimal, sehingga mereka dapat memberikan sumbangan yang luar biasa untuk masyarakat.


 

 

 









Dalam Sekejap, Hidup Bisa Berubah: Tentang Kehilangan yang Tak Pernah Kita Siapkan

Kemarin, mungkin mereka masih berangkat seperti biasa. Duduk tenang di kursi, menatap jendela yang bergerak perlahan, memikirkan hal-hal s...